Sejarah Desa Nita
Dari sejarah lisan dan tulisan berkembang, dikisahkan bahwa nenek moyang orang Nita berasal dari Tanah Siam, Cina atau Ata Siang Sina. Ketika tiba di Niang Nita, mereka mendirikan sebuah menhir sebagai simbol pemersatu budaya yang disebut Mahe Sirang Sina. Disebutkan ada 3 orang terkenal dari Ata Siang Sina dengan nama lokal mereka yaitu Moan Ria, Moan Guniang Moan Raga. Mereka tinggal dan menetap dalam waktu yang lama dan melakukan hubungan mawin dengan penduduk lokal di sekitarnya. Moan Ria dan keluarganya kemudian menetap Ilin Bekor dan menurunkan Orang Hokor. Moan Guniang dan keluarganya mendiami Ilin Gai menurunkan Orang Sikka, Koting dan Kode atau Nele. Sedangkan Moan Raga bersama berdiam di Ilin Newa dan menurunkan Orang Nita. Moan Raga mempunyai seorang bernama Moan Desa. Moan Desa mempunyai dua orang putra bernama Moan Sisa dan Hila. Moan Sisa disebut juga ‘Sisa Mitang Niang Nita’ karena beliaulah yang kemudian Orang Nita. Dan Moan Hila disebut ‘Hila Bura Romanduru’ yang kemudian Orang Romanduru Eha. Moan Sisa Mitang mempunyai dua orang putra bernama Lolo dan Moan Jong. Keduanya lazim disebut terpadu Lolo Jong. Dari keturunan Lolo Jong, kemudian lahirlah raja-raja Kerajaan Nita.
Nama ‘Nita’ sendiri sesuai tuturan sejarah berasal dan diambil dari nama sebuah pohon yang bahasa Sikka disebut ‘AI NITA’ atau Pohon Nita. Diduga nama Nita berasal dari serapan kata bahasa Latin ‘GNITACIAE’ yang merupakan nama ilmiah dan familia dari sebuah pohon Gnitum Gnitae. Dari kosa kata Gnitaciae ini kemudian mengalami variasi dan terserap ke dalam kata bahasa Sikka menjadi ‘GNITA’ atau ‘NITA’. Penduduk Nita pada waktu itu hidup berkelompok dalam satu kesatuan adat atau suku yang lepo dan dipimpin oleh seorang Kepala Suku. Dari suku atau lepo inilah yang membentuk Kampung atau Natar di bawah pimpinan Kepala Kampung. Dari catatan sejarah, kurang lebih 7 (tujuh) suku atau lepo yang hidup dan berkembang sampai dengan antara lain; Lepo Ratu (Orin Bao Nata Ulun/Orin Bao Reta Une), Lepo Raja (Welak), Orin Bao (Orin Bao Wawa Tedang), Lepo Kolit, Lepo Degodona, Lepo Lorat, dan Lepo Tour Gete. Kesemuanya hidup bersama dan berdampingan dalam kesatuan Natar Nita (Kampung). Natar Nita kemudian berkembang sebagai Kerajaan Nita yang menguasai Napung Pitu Walu dengan Lepo Orin Bao Nata Ulun atau Lepo Ratu sebagai Rajanya.